ULAMA SASTRAWAN NASIONALIS (DARI SYIAR HINGGA SIMBOL PERLAWANAN)KH. Ahmad Rifa`I Kalisalak (1786-1875)

ULAMA SASTRAWAN NASIONALIS (DARI SYIAR HINGGA SIMBOL PERLAWANAN)
KH. Ahmad Rifa`I Kalisalak (1786-1875) 



PROLOG
Pemikiran dan Pergerakan Islam secara macro pada abad ke-19 memiliki arti penting jika dilihat dari perubahan yang terjadi di berbagai kawasan Islam. Peran ulama dan kiprahnya memang tak dapat dilepaskan dari keadaan kondisi yang terjadi pada masyarakatnya, hal ini tentu mempengaruhi pola pikir para ulama bagaimana supaya ruh Islam dapat melekat pada masyarakatnya, seorang KH. Rifa’i Kalisalak misalnya karena keperihatinan dan rasa peduli beliau terhadap kondisi masyarakat yang mulai berubah di daerahnya terjadi akibat pergejolakan politik dan degradasi moral yang ditularkan kolonial membuat beliau mengangkat suara mengambil tindakan sebagai upaya pencegahan hilangnya kebudayaan dan adat yang sudah ada, sebagai tokoh ulama yang memiliki peran besar disamping sebagai pelopor berdirinya pergerakan dan tariqah Rifa’iyah, beliau banyak menterjemah juga mengarang kitab-kitab sebagai perlawanan terhadap pemimpin Hindia Belanda yang dianggap tidak adil, dari sebuah ketidak adilan beliau menuangkan pemikirannya dalam bentuk syair berbahasa Jawa ditulis dengan aksara Arab Pegon, karya yang ditulis bertujuan merubah cara pandang masyarakat ke arah pembangunan dan pengukuhan terhadap budaya lokal yang diselaraskan dengan ajaran Islam yang selanjutnya akan terus dikembangkan oleh para murid dan masyarakatnya.
A. Kelahiran KH. Ahmad Rifa`i
 KH. Ahmad Rifa`i seorang ulama kelahiran Kendal Jawa Tengah tepatnya di desa Tempuran, kecamatan Kalwungu. Ditemukan dalam arsip Belanda pada 6 Mei 1958 beliau bernama Hadji Mohammad Ripangie, dalam karya-karyanya atau yang ditulis oleh para muridnya bernama Kiyai Haji Ahmad Rifa`i yang ditaruhkan pada akhir nama Kalisalak sebagai keterangan bahwa beliau adalah ulama dari Kalisalak. Lahir pada Sabtu Kliwon 9 Muharam 1200 H. Ada juga yang menyebutkan Kamis 10 Muharam 1200H/November 1785 M. 1785 M dan wafat di Manado, Sulawesi Utara pada 25 Rabiul Akhir 1286 H/4 Agustus 1869 M pada usia 83 tahun, beliau seorang tokoh pelopor thariqat Rifaiyah dan penggerak serta penolakan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Ayahnya bernama Raden KH. Muhammad Marhum bin Syuja` (Sucawijaya), merupakan penghulu Landraad Hindia Belanda di Kendal tahun 1794 M, melanjutkan perjuangan ayahnya KH Abu Syuja` alias Raden Soetowidjodjo.
Pada usia 6 tahun  (1792) ayah beliau meninggal pada usia beliau 8 tahun (1794), tidak lama kemudian disusul kakeknya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh sepenuhnya oleh ibunya Siti Rahmah atau Ummi Radjiyah. Tetapi untuk meneruskan keinginan orang tuanya supaya KH Ahmad Rifa’i memperdalam agama dan untuk mengurangi beban ibunya, maka kakaknya Nyai Radliyah membawa Rifa’i ke Kaliwungu untuk diajari ilmu agama oleh suaminya Kiayi Asy`ari, dari kiai Asy`ari lah  beliau mendapat pengajaran Islam, Rifa’i muda pun telah menguasai banyak ilmu, dari ilmu al-Qur`an, Hadits, ilmu alat meliputi Nahwu, Sharaf, Balagah, Mantiq, Bayan dan ilmu tentang cara membuat syair Arab ilmu Arudl dan Qawafi), Syariat juga Tasawuf. Setelah merasa cukup mapan lalu beliau menikah dengan Umi Umrah, dari istri pertamanya dikaruniai 5 anak, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Setelah istrinya wafat, beliau pindah ke Kalisalak, Batang dan sekitar tahun 1840an beliau menikah lagi dengan Sujinah, janda Demang, di desa Kalisalak, kecamatan Limpung, kabupaten Batang Jawa Tengah  dan dikaruniai seorang anak laki-laki. Pindahnya beliau dari Kaliwungu di kalisalak beliau mebangun pesantren, dikatakan selama 11 tahun beliau melakukan perlawanan dengan karya sastra dan dakwahnya. 
B. Perjuangan dan Pemikiran
Ketika Rifa’i beranjak dewasa beliau mulai berdakwah keliling daerah mulai Kendal dan daerah-daerah sekitarnya, beliau merasa terpanggil dengan keadaan masyarakat yang sudah mulai terpengaruhi budaya kolonial, dari dakwahnya beliau banyak menyampaikan orasi tentang perlawanan dan antipati terhadap budaya barat, hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian beliau untuk menghalau pengaruh budaya barat yang mulai masuk kepada masyarakat Semarang yang waktu itu merupakan pusat kepentingan Hndia Belanda, dan merambat hingga masuk ke Kendal. Dakwah dan seruannya yang mengandung kritikan-kritikan kepada para pemerintah mengakibatkan beliau dimusuhi para pejabat.
Di mata pemerintah Belanda, sosok Rifa’i adalah ulama yang dipandang dapat mengancam stabilitas politik karena dalam mengajarkan agama sering bersinggungan dengan keberadaan pemerintah belanda di Indonesia. Kata-kata kafir, fasik dan dzalim sering dipakai oleh beliau untuk memberi predikat kepada penguasa Hindia Belanda, juga memberi legitimasi terhadap sikap yang harus diambil oleh ummat beragama agar tidak tunduk kepada pemerintah, beliau bukan sekedar menentang pemerintah, namun juga para pegawai pemerintah seperti penghulu, demang (kepala distrik pada zaman pemerintahan Hindia Belanda), dan bupati yang dianggapnya telah tersesat karena sudah mengikuti kemauan Pemimpin Kafir. 
Pada usia beliau yang ke 30 tahun (1818-1841), beliau berangkat ke tanah suci untuk menunaikan haji, disana beliau tidak langsung pulang melainkan bermukim sambil menuntut ilmu agama, diantara guru-guru beliau adalah Syeikh Utsman dan Seikh al-Faqih Muhammad bin Abdul Azis al-Jaisyi. Beliau belum merasa puas dengan ilmu yang beliau miliki dan melanjutkan pengembaraan  hingga pergi ke Mesir untuk kembali menuntut ilmu, guru beliau disana diantaranya Syeikh al-Barawi dan Syeikh Ibrahim al-Bajuri pengarang kitab syarah Fathul Qarib. Sewaktu di Makkah beliau juga bertemu dengan ulama Nusantara yang lain seperti Syeikh Nawawi al-Bantani al-Jawi dan Syeikh Khalil al-Bangkalani Madura. Setelah 20 tahun di timur tengah untuk belajar agama kemudian beliaupun kembali ke tanah kelahiran untuk mengabdi di pondok kakaknya KH. Asy`ari, beliau menaruh perhatian dengan mulai mengarang serta menerjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke bahasa Jawa yang tidak kurang dari 50 kitab yang telah beliau terjemahkan.
Selain dikenal sebagai ulama yang alim beliau juga terkenal dengan julukan singa podium, karena cara dakwah yang kritis dan berani terhadap para pemerintah, juga menyadarkan kesadaran sosial masyarakatnya. Alhasil, dari cara dakwah dan kritikan tersebut sangat berpengaruh terhadap masyarakat yang kemudian menjadi militan, akhirnya terjadi perpolitikan yang bergejolak di sekitar wilayah Keresidenan Semarang dan Kendal, banyak yang tersindir dan priayi yang terkecam karena orasi beliau hingga dilaporkan ke pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah menyadari hal tersebut dapat mengganggu stabilitas kepemerintahan yang akhirnya menghasilkan keputusa agar KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke hutan terpencil di daerah Kalisalak Kendal.
C. Kiprah dan Karya
Di Kalisalak beliau mendirikan Pesantren dan Madrasah Al-Quran pada tahun 1821. Pondok ini terus berkembang sampai nantinya banyak kader ulama yang beliau cetak untuk meneruskan dakwah beliau. Selama berdakwah dan memimpin jamaah, beliau berhasil mencetak kader sebagai pengganti beliau diantaranya Abdul Aziz Wonosobo, Abu Hasan Wonosobo, Muhammad Toyib Kalibaru, Abdul Hadi Keretek Wonosobo, Abu Mansur dari Sepuran Wonosobo, Ishak dari Sepuran Wonosobo, Abdul Kohar dari Kendal, Abdul Fatah dari Wonosobo, Muhammad Tubo dari Purwosari Kendal, Ilham dari Kalipucung Batang, Mauforo meantu KH. Ahmad Rifai dari Kalisalak Batang, dan Munawir Wonobodro Batang, setelah wafatnya KH. Ahmad Rifai maka murid-murid ini lah yang akan melanjutkan dakwah dan gerakan Rifa`iyah yag dinisbatkan kepada beliau selaku pelopor gerakan dakwah di daerah Kendal dan sekitarnya.
Perlawanan beliau terhadap belanda dituangkan dalam kitab beliau yang berjudul Syarb al-Iman, didalamnya beliau berkata bahwa orang beriman yang bekerja menanam ketela itu lebih baik daripada bekerja untuk pemerintah yang kufur, banyak lagi fatwa yang beliau keluarkan seperti tidak sahnya shalat Jum’at yang khotibnya adalah orang birokrat yang mengabdi kepada Belanda, kemudian tidak sahnya pernikahan yang dilakukan pejabat Hindia Belanda, yang membat banyak masyarakat memohon untuk disahkan pernikahannya oleh beliau, di Pati tradisi nikah ulang ini disebut shihah (mensahkan pernikahan), di Randu Dongkal Pemalang diistilahkan dengan tajdid-an-nikah (memperbaharui pernikahan).  Untuk kedua kalinya beliau ditangkap dan diasingkan ke Manado, Sulawesi karena kekhawatiran pemerintah kolonial terhadap pemikiran dan pengaruh yang beliau ajarkan ke masyarakat luas. Dari pengasingan tersebut sampai dengan wafatnya  pada 1875 M tercatat beliau menghasilkan 64 kitab berbahasa jawa pegon dari tejemah ataupun karang beliau langsung banyak kitab yang belum ditemukan karena pengasingan beliau ke Manado, ada yang mengatakan kitab yang dikarang dan diterjemah tidak kurang dari 60 kitab, diantara kitab-kitab beliau ada tiga kitab induk yaitu Ri`ayatul Himmah, Abyanul Hawaiz dan kitab Muhibbah, yang membahas dasar ilmu tauhid fikih dan tasawuf yang digunakan di pesantren Rifaiyah. Banyak kitab tarjumah yang dibawa ke Belanda. 
Kitab tarjumah yang berasal dari bahasa Arab tarjama yang artinya terjemah menggunakan penulisan arab pegon berbahasa Jawa dengan pola nadzam (Syair) yang disesuaikan dengan al-Qur`an, dan Sunnah serta qoul-qoul ulama yang menjadi referensi utama dikomparasikan dengan pemikiran beliau, bergaya rima murabba artinya mengikuti format puitika Arab yakni setiap dua bait puisi terdiri dari empat baris yang semua akhir kata rimanya sama dapat dilihat dari salah satu karyanya Abyan di dalam kitab tersebut beliau memahami tiga tradisi puisi Jawa (yang beliau sebut sebagai tembang), Arab (syiir) dan Melayu (sajak bernyanyi),  ditulis dengan warna merah dan hitam yang merupakan khas tulisan bangsawan pada masa lampau, kitab ini berisi tiga pokok ilmu agama Islam berupa Ushuluddin, Fiqih dan Tasawuf. Seni pegon yang dipaka dalam kitab Tarjumah hamir sama dengan aksara Arab Jawi yang dpakai dalam penulisan Arab Melayu, memiliki harakat dan hanya berjumlah 20 huruf yang disesuaikan dengan bahasa Jawa.


Contoh syair bahasa Jawa dengan redaksi al-Qur’an:  
تَنْ تِنـمُوْا وَوڠْيْكُوْ سِكْسَــانِـيْ اَلَا ۞ اَڠِڠْ يَيْن وِسْ كَدَتَـڠَنْ شَــرَڠْ فَرْتِيْلَا
اِيْكِى لَهْ قُرْآن فَڠِنْدِيْكَنَيْ الله تَعَالَى ۞ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّى نَبْعَثَ رَسُـوْلًا
“Tan Tinemu wang iku siksane dhahire ala, anging yen wis kedatangan syara’ pertela, ikilah Qur’an pengandikane Allah Ta’ala; Wa Ma Kunna Mu’adzibiina Hatta Nab’atsa Rasuula”. (Ri’ayatul Himmah, karya KH. Ahmad Rifa’i).
Contoh syair bahasa Jawa dengan redaksi Hadits:
چَاتَ وَاجِبْ دَادِ حَجِ مَبْرُوْرْ دِاَرَهْ    ۞     اَجَـا فِسَـنْ اَنُوْتْ اِڠْ مَعْصِـيَة لُمْرَاهْ
اِيْكِــى لَهْ حَدِيْثْ حَجِ مَبْـرُوْرْ وِنَارَاهْ ۞ الحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنّة
“Nyata wajib dadi haji mabrur diarah, aja pisan anut ing ma’siyah lumrah, ikilah hadits haji mabrur winarah, Al-Hajju al-ambruru Laisa Lahu Jaza’un Illal Jannah” (Ri’ayatul Himmah, karya KH. Ahmad Rifa’i).
Contoh syair bahasa Jawa dengan redaksi perkataan ulama’:
وَجِبْ مُلْيَانِى صَحْ اِيْمَانْ كِنَوَرُهَنْ ۞ سُوْفَيَـا حَاصِلْ اِيْمَانْ نِڠْ كَبَاطِنَنْ
اِيْكِى لَهْ كَلَامْ عُلَمَا عِبَارَةْ رِڠْكَسَنْ ۞ فَائِدَةُ رَأْسُ كُلِّ السَّعَادَاتِ الْإِيْمَانُ
“Wajib mulyane sah iman kinaweruhan, supaya hasil iman ning kebathinan, ikilah kalam ulama’ ibarah ringkesan: Faidatu Ra’si Kullis Sa’adati al-Iman”. 
D. Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i
1. Seni Gamelan
      Tidak cukup dengan dakwah dengan orasi maupun dalam bentuk karya sastra, beliau juga berdakwah melalui karya gerak dan rupa, seni sastra misalnya kitab tarjumah, seni gerak seperti menciptakan terbangan yang juga disebut seni rebana, untuk mengiringi syair yang beliau karang, syair ini juga biasa dilantunkan di masjid atau mushalla setelah adzan sambil menunggu Iqamah, seni suara dengan melantunkan al-Qur’an dengan merdu.
2. Aksara Pegon Kitab Tarjumah sebagai Perlawanan
      Seperti yang diketahui dalam kitab tersebut mengandung kritikan kepada pemerintah, kitab yang ditulis dengan pegon yang melambangkan ciri loyalitas ini bertujuan untuk mengikat serta membangun kultural budaya sebagai sarana mempertahankan kebudayaan lokal.
3. Kaligrafi Pegon
      Tidak hanya dalam sebuah kitab, beliau juga menuliskan kaligrafi engan Arab Pegon yang dibuat dari ukiran atau pahatan kayu jati, tidak hanya bertujuan untuk berkepentingan seni saja tapi yang paling penting adalah bagaimana kaligrafi ini dibuat sebagai sarana dakwah dan perlawanan terhadap penguasa yang tidak adil.
4. Model Pakaian dan Perumahan Jawa
      Dari dakwah beliau yang bertujuan untuk mengembalikan budaya terlihat dari kita yang beliau karang Abyan al-Hawaij ada tiga kesimpulan yang dapat diambil bahwa pertama adat budaya yang mendukung Islam, kedua adat budaya yang merusak Islam ketiga, adat budaya yang tidak mendukung dan tidak merusak aturan dan tatanan Islam, beliau mendukung setiap adat atau budaya yang berkembang di masyarakat, mengembangkan serta menambahkan dengan tuntunan syari’at dimana kebaya ditingkatkan supaya terlihat sopan dan dapat menutup aurat, dari arsitektur rumah juga supaya melestarikan model rumah yang diciptakan oleh Walisongo yang mana terdapat nilai keislaman, misalnya menyiapkan satu kamar untuk tamu yang ingin menginap, namun berjalannya seiring waktu membuat gaya rumah Jawa mulai mengikuti gaya yang baru.
5. Seni Batik
      Tidak terlepas dari seni masyarakat Jawa yang unik, batik menjadi salah satu keahlian yang dimiliki masyarakat Jawa pada umumnya, dari pola batik yang menggambarkan pohon atau mahluk bernyawa oleh beliau dimodifikasi supaya bentuk hewan tidak sama dengan aslinya, misalkan gambar burung diganti bentuk sayapnya, atau dengan mengganti kaki burung dengan ranting, atau dengan menghilangkan salah satu anggota badan burung supaya tidak hidup, hal ini selaras dengan cara dakwah walisongo yang merubah bentuk tokoh dan nilai ajaran dalam pewayangan.

EPILOG
          Pendidikan dan situasi yang terjadi menjadi motifasi yang merubah cara pandang seorang KH. Ahmad Rifa’i dalam berdakwah di Kendal dan sekitarnya, terutama penentangan yang beliau tunjukkan atas pemerintah Hindia Belanda yang menurut beliau tidak adil, dari sini beliau mendapat respon keras dari pemerintah hingga kemudian diasingan, namun hal tersebut tidak membuat beliau surut namun menambah semangat beliau untuk berdakwah lebih gencar lagi baik melalui kitab yang mengkritik para pemimpin atau demang yang menjabat waktu itu, tidak cukup dakwah melalui orasi dan karya sastra beliau juga menganjurkan kepada masyarakat supaya mempertahankan budaya, dari ajaran Islam yang diiringi musik Islami (Rebana), cara berpakaian dan model rumah Jawa yang dipercaya memiliki dasar nilai keislaman yang diajarkan ulama-ulama sebelumnya (Walisongo) hal ini selain bertujuan untuk meminimalisir pengaruh budaya kolonial juga untuk memperkuat budaya yang ada, menumbuhkan rasa simpati terhadap budaya yang memang harus dipertahankan dan dilestarikan.

Referensi
Rasyid, Moh (Gerakan Pegon Era Kolonial Hingga Era Digital: Studi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Ngembalrejo Kudus) Vol. 6 No 1, Juni 2019, pp. 67-77
Shadiq Abdullah, Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan Tradisi, Rasail, Semarang. 2006
Marzuki HS, dkk, Intelektualisme Pesantren Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era Perkembangan Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka, 2003
Agus Iswanto Review Buku Tradisi Islam, Tradisi Arab dan Tradisi Jawa (membaca karya dan pemikiran KH Ahmad Rifai Kalisalak, judul asli Puisi Perlawanan dari Pesantren: Nadzam tarekat K.H. Ahmad ar-Rifa’i Kalisalak, penerbit Transpustaka hlm 523

Oleh: Muhammad Iqbal, S.Ag (Alumni Ma'had Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta prodi Sejarah dan Peradaban Islam)

Komentar

  1. Mantap sekali, Ulama memang tidak harus selamanya bersahabat dan menggeluti tentang agama, tapi juga harus berteman dengan sastra. Bahkan, itu sangat membantu dalam mensyiarkan agama agar dalam penyampaiannya lebih berwarna dengan kekayaan budaya Indonesia.

    BalasHapus
  2. Mantap sekali, Ulama memang tidak harus selamanya bersahabat dan menggeluti tentang agama, tapi juga harus berteman dengan sastra. Bahkan, itu sangat membantu dalam mensyiarkan agama agar dalam penyampaiannya lebih berwarna dengan kekayaan budaya Indonesia.

    BalasHapus
  3. Mantap sekali, Ulama memang tidak harus selamanya bersahabat dan menggeluti tentang agama, tapi juga harus berteman dengan sastra. Bahkan, itu sangat membantu dalam mensyiarkan agama agar dalam penyampaiannya lebih berwarna dengan kekayaan budaya Indonesia.

    BalasHapus

Posting Komentar